NTT, Beritasatu.com – Kain tenun merupakan salah satu kerajinan khas Nusa Tenggara Timur (NTT) dan banyak dicari wisatawan. Desa Nuamuri di Desa Mbuli Lo’o, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende merupakan salah satu desa kerajinan tenun yang ada di NTT.
Read More : Baim Wong Jawab Kabar Perceraiannya dengan Paula Verhoeven
Beritasatu.com berkesempatan mengunjungi Desa Nuamuri dan mempelajari proses pembuatan kain tenun. Ternyata proses pembuatan kain tenun berbahan pewarna alami bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.
“Kalau pengerjaan aslinya butuh waktu tujuh bulan karena ada kegiatan lain. Kalau bukan pengerjaan asli butuh waktu dua bulan,” kata salah satu penenun di Desa Nuamuri, Rabu (th -10). jelas Mensi kepada Beritasatu.com. /7/2024). Kain tenun utama NTT diproduksi di Desa Nuamuri, Desa Mbuli Lo’o, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. – (Beritasatu.com/Maria Gabrielle Putrinda)
Sebuah kain berukuran panjang sekitar tiga meter dan lebar tujuh puluh delapan sentimeter. Lamanya proses pembuatan kain tenun juga tergantung dari kerumitan pola yang dibuat.
“(Kain tenunnya) motifnya bermacam-macam, tergantung proses yang kita gunakan untuk membuat polanya dengan baik, yang sedikit rumit, rumit dan prosesnya lama (kalau pewarna alami),” Mensi menjelaskan.
Pewarna alami yang digunakan antara lain kastanye batu, jahe, pinang, cabai dan garam. Lalu bagaimana proses pembuatannya?
“Pertama, benangnya dipintal jadi benang, kapuk jadi benang. Lalu (benangnya) ditebar untuk dijadikan pola. Setelah jadi polanya, direndam dulu dalam air lalu kita cari pewarna alaminya,” jelas Mensi. .
Read More : Kementan: Ketahanan Pangan Indonesia Stabil Dibanding Filipina yang Kondisi Darurat
Ketika warna yang diinginkan diperoleh, benang dari mana pola itu dibuat direndam selama tiga hari. Benang tersebut kemudian direbus dalam biji asam jawa hingga mengeras.
Setelah proses selesai, benang siap dikepang. Karena prosesnya yang rumit dan memakan waktu lama, kain tenun tersebut bisa dijual hingga jutaan rupee.
Salah satu kain tenun yang ditampilkan memiliki warna dasar berwarna hitam dengan corak coklat kemerahan. Pada kain tersebut terdapat tulisan “Ibu Beras”, mitos asal usul beras yang diyakini masyarakat Liao, dan gambar berbagai macam binatang.
“Harganya Rp 3,5 juta (paling murah). Kalau yang ini lebih mahal beda lagi, lebih dari Rp 5 juta karena benangnya dari kapuk dan beda benangnya dan beda warnanya karena dari akarnya. , butuh waktu berbulan-bulan untuk merendamnya hingga mendapatkan hasil seperti ini,” tutupnya.