Jakarta, Beritasatu.com – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dan Bulog Bayu Krisnamurthi telah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan tingginya harga impor beras (biaya tambahan) dan penundaan impor. nasi nasi di Tanjung Priok atau istirahat kerja.
Read More : Staf Hasto Kristiyanto Laporkan 2 Penyidik KPK ke Propam Polri
Terkait hal itu, Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengatakan DPR bisa mengambil keputusan dengan membentuk panitia khusus (pansus).
Saya mendukung pembentukan pansus DPR untuk melakukan kajian mendalam terhadap proses dan penetapan kuota impor beras bulog, kata Fernando di Jakarta, Jumat (7/5/2024), seperti dikutip Antara.
Menurut Fernando, perlu adanya panitia khusus untuk mengusut dugaan kenaikan impor beras tersebut agar tidak ada pihak yang sengaja memanfaatkan kebijakan impor tersebut.
โMungkin ada pihak yang sangat menikmati kebijakan impor beras,โ imbuhnya.
Ia juga menilai pembentukan pansus ini diperlukan untuk memperbaiki tata kelola sektor pertanian Indonesia agar lebih berpihak pada petani di masa depan.
โJangan sampai negara hanya mengandalkan impor dan tidak melibatkan petani dalam menjaga ketersediaan pangan dalam negeri,โ ujarnya.
Read More : Hari Buruh 2025: Ini Sejumlah Tuntutan yang Disuarakan Berbagai Daerah
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi memberikan penjelasan terkait dugaan kenaikan harga beras impor. Menurut Bayu, hal ini terkait dengan kondisi jeda atau tertundanya bongkar muat barang.
Bayu mengatakan, dalam kondisi tertentu, penghentian atau keterlambatan bongkar muat merupakan hal yang tidak dapat dihindari karena adanya risiko penanganan barang impor.
Misalnya kalau direncanakan lima hari, jadi tujuh hari. Mungkin pelabuhannya penuh karena hujan, pekerjanya tidak ada karena libur, dan sebagainya, kata Bayu.