Jakarta, Beritasatu.com – Buku “Icons of Evolution” karya Jonathan Wells merupakan karya yang mengkritik paradigma evolusi. Dalam bukunya, Wells mengatakan bahwa banyak contoh evolusi yang digunakan dalam buku teks dan artikel berita tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Read More : Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Resmi Menikah
Dia menuduh para ilmuwan evolusi memanipulasi dan memanipulasi data untuk mendukung teori tersebut, kemudian menafsirkannya dengan cara yang berbeda.
Buku ini dibagi menjadi beberapa bab, yang masing-masing membahas contoh ikon evolusi yang berbeda, seperti rahim Haeckel, transisi fosil, dan homologi. Wells memberikan sejarah setiap contoh, bukti pendukung, dan kritik terhadap bukti tersebut.
Wells membahas filsafat ilmu pengetahuan dan implikasi teori evolusi. Ia mengatakan, evolusi sering kali disajikan sebagai fakta, padahal teori-teori tersebut masih diperdebatkan. Ia juga berpendapat bahwa teori evolusi memiliki implikasi filosofis yang mendalam, karena menantang gagasan tradisional tentang asal usul manusia dan tempatnya di alam semesta.
Wells tampaknya menganut pandangan kreasionis bahwa evolusi adalah “filsafat yang relevan”. Namun evolusi, seperti teori ilmiah lainnya, hanya mencoba menemukan penjelasan alami mengenai alam.
Apakah seseorang memilih untuk percaya bahwa โhidupmu hanyalah hasil dari sebab alamiah tanpa tujuanโ bergantung pada keyakinan masing-masing orang. Hal ini tentu saja tidak terjadi dalam evolusi, karena hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ilmuwan adalah atheis.
Hal ini berdasarkan laman Pew Research Center tentang Scientist and Belief yang menjelaskan bahwa lebih dari separuh ilmuwan (51%) percaya pada suatu bentuk Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi, 33% ilmuwan mengatakan mereka percaya pada Tuhan, dan 18% percaya pada Tuhan. . Semangat Universal atau Kekuatan Yang Lebih Tinggi.
Judul buku tersebut merupakan referensi unik untuk “evolusi”, salah satu ilustrasi di sampulnya. Gambar terkenal di sampulnya menunjukkan serangkaian primata berlari dari kiri ke kanan, dimulai dengan monyet kecil yang berjalan, melewati serangkaian manusia kera, dan diakhiri hari ini dengan monyet Cro Magnon di sebelah kanan Man” pada tahun 1970 dan digambar oleh Rudy Zallinger. Namun, sejak itu terus disalin dan dimodifikasi. Faktanya, versi gambar ini terdapat di sampul buku Wells sendiri, dan dia menggambarkannya sebagai “gambar akhir” evolusi.
Buku “Ikon Evolusi” pertama kali diterbitkan pada tahun 2000. Beberapa edisi bahasa lainnya telah diterbitkan, termasuk edisi bahasa Indonesia yang berjudul “Tanda-Tanda Evolusi: Sains atau Mitos? Mengapa Banyak Hal yang Kita Pelajari Tentang Evolusi Itu Salah”.
Buku “Icons of Evolution” oleh Jonathan Wells tidak dilarang secara resmi. Namun, buku tersebut telah dikritik oleh banyak orang dan organisasi karena tidak akurat secara ilmiah dan menyesatkan. Buku tersebut juga mendapat banyak kritik dari para ilmuwan dan ahli biologi.
Kritikus berpendapat bahwa Wells salah menggambarkan bukti ilmiah evolusi dan mengabaikan bukti yang mendukung teori tersebut. Dia juga menuduh pendekatannya bias dan tidak ilmiah.
Meskipun demikian, buku ini sangat populer di kalangan penentang evolusi dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Selain itu, “Econ of Evolution” mendorong banyak diskusi tentang bukti ilmiah evolusi dan peran agama dalam pendidikan sains.
Apakah Camilia Laetitia Azahra atau Zara, putri Ridwan Kamil yang tiba-tiba lepas hijab, juga membaca buku ini? Pasalnya Zara diyakini terpengaruh dengan membaca buku “Sapiens” karya Yuval Noah Harari yang terbit dalam bahasa Ibrani di Israel pada tahun 2011.