Sukabumi, Beritasatu.com – Baru-baru ini warga Sukabumi, Jawa Barat, dihebohkan dengan ditemukannya jejak kaki spesies harimau liar yang ditemukan di kebun warga.

Read More : Keluarga Sebut Vadel Badjideh Tidak Enak Badan dan Mual-mual

Ini bukan penemuan jejak kaki macan tutul yang pertama. Perkembangan serupa terjadi sekitar sebulan lalu. Selanjutnya, jejak serupa baru-baru ini ditemukan di lahan milik salah satu warga Desa Batukrut, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja.

Atas ditemukannya jejak kaki macan tutul, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sikananga di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, menyelenggarakan pelatihan pelacakan macan tutul menggunakan kamera jebakan.

Manajer Konservasi Insitu YKCT Meidi Yanto mengatakan pelatihan pelacakan macan tutul menggunakan kamera jebakan sangat penting, terutama mengingat baru-baru ini ditemukan jejak kaki macan tutul yang mencurigakan. Relawan memasang kamera jebakan untuk memantau macan tutul yang berkeliaran di sekitar kawasan perkebunan Sukabumi di Panthera, Jawa Barat. -(Beritasatu.com/Riza)

Ia juga menjelaskan, beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi sebenarnya merupakan rumah bagi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus mela), baik di kawasan yang dilindungi maupun di kawasan yang tidak dilindungi.

Meidi dalam keterangannya, Jumat (31/5/2024), mengatakan: “Iya, dikabarkan banyak terjadi konflik antara manusia dan macan tutul, banyak macan tutul yang akhirnya diusir dari habitatnya. Bahkan ada yang mati.” dikatakan.

Selain itu, pelatihan ini juga dapat memberikan pemahaman mendalam kepada peserta mengenai pemanfaatan teknologi kamera jebakan untuk memantau keberadaan dan perilaku macan tutul.

Sehingga dapat melindungi dan memantau populasi cheetah yang tersebar di seluruh Kabupaten Sukabumi.

Read More : Respons Rizky Nazar Soal Syifa Hadju Berpacaran dengan El Rumi

“Tujuan dari acara ini adalah untuk memperkuat keterampilan peserta dalam mengelola dan mengoperasikan kamera jebakan secara efektif,” jelasnya.

Perwakilan dari instansi pemerintah terkait di Sukabumi dan sejumlah organisasi relawan menghadiri pelatihan khusus tersebut.

Dedi Setiawan, salah satu relawan peserta Panthera yang mengikuti pelatihan mengatakan, pelatihan seperti ini harus terus dilanjutkan. Karena selain menambah pengetahuan kita juga mengetahui cara memanfaatkan kamera untuk melacak kamera dan satwa liar yang ada di hutan.

“Hal ini sangat diperlukan karena banyak hal yang perlu diketahui tentang jenis satwa di atas (Cagar Alam TNGGP), salah satunya adalah perlunya alat ini untuk menemukannya,” ujarnya. 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *