Kebumen, Beritasatu.com – Musim kemarau membawa berkah bagi para nelayan laut selatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Udang jerbung merupakan salah satu hasil tangkapan laut yang kini melimpah. Tanpa mitigasi, omzet yang diperoleh nelayan setelah melaut bisa mencapai jutaan rupee.

Read More : Berbasis Kompetensi, Kemenparekraf Siapkan SDM Pariwisata yang Kompeten

Hal ini tentu membuat senang para nelayan di Laut Selatan, Kabupaten Kebumen. Seperti yang terlihat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pedalen, Desa Argopeni, Kecamatan Ayah, Kebumen. Nelayan di sini bisa menangkap udang jerbung dalam jumlah memuaskan setiap harinya.

Udang jerbung menjadi salah satu ekspor, mendampingi udang vanname yang juga menjadi favorit. Menurut pengakuan para nelayan, mereka mulai memanen udang jerbung hasil tangkapannya sejak Januari lalu. Satu kilogram udang jerbung dihargai sekitar Rp180.000-200.000 per kilogram.

“Musim udang jerbung, satu kilonya Rp 180.000, isi 24 ekor ikan,” kata seorang nelayan bernama Sarjani kepada Beritasatu.com, Selasa (14/5/2024).

Langsung di laut, para nelayan ini bisa menangkap sekitar 10-50 kilogram udang jerbung. Omzet yang dihasilkan bisa mencapai jutaan rupiah jika hasil tangkapan melimpah.

Udang jerbung hasil tangkapan nelayan kemudian dikirim ke Jakarta. Bahkan udang ini juga diekspor ke sejumlah negara seperti Korea dan Jepang.

Sekali melaut hasilnya tidak menentu, kalau rejeki ada yang dapat sampai 40 kilogram dan dikirim ke Jakarta untuk dimakan restoran dan diekspor, imbuhnya.

Read More : Digelar 20 Agustus, Munas Partai Golkar Bakal Dihadiri 1.500 Peserta

Hal senada juga diungkapkan nelayan lainnya, Yaimin, baru saja melepas hasil tangkapannya ke laut.

Menurutnya, udang jerbung banyak ditemukan di perairan Purworejo hingga Kebumen. Biasanya melaut mulai pukul 05.00 WIB dan kembali pada pukul 13.00 WIB. Meski hasil tangkapan saat ini bagus, namun kondisi laut penuh angin kencang dan gelombang tinggi. Diakuinya, hal tersebut menjadi kendala bagi para pemancing.

“Ini musim udang jerbung. Saya berangkat di pagi hari dan kembali di sore hari. “Anginnya sangat kencang, namun kami tetap berani melaut karena untuk kebutuhan keluarga,” pungkas Yaimin.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *