Jakarta, Beritasatu.com – Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi. Negosiasi bea cukai yang mempengaruhi peningkatan ketegangan geopolitik di Amerika Serikat (Amerika Serikat) dan banyak negara, serta di dekat -timur, mempengaruhi ekonomi global.
Read More : Ramon Suzara Terpilih sebagai Presiden AVC Gantikan Rita Subowo
“Kondisi ini membutuhkan kewaspadaan, mempromosikan jawaban dan koordinasi politik untuk menjaga fleksibilitas eksternal, menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara itu,” kata Bi Perry dan Argio pada konferensi pers pada Juni 2025 (18.18.2018).
BI memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global mencapai 3 % pada tahun 2025. Saat ini, kebijakan bea cukai Amerika Serikat berdampak pada perlambatan ekonomi global. Di negara -negara maju, Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, pertumbuhan ekonomi telah jatuh ke arah ini di tengah -tengah kebijakan fiskal dan kebijakan moneter negara.
“Ekonomi Tiongkok telah melambat karena ekspor rendah, terutama untuk Amerika Serikat di tengah -tengah permintaan lokal, sementara ekonomi India diperkirakan akan tumbuh dengan baik, terutama manajemen investasi yang kuat,” kata Perry.
Dia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia harus terus mendorong ketidakpastian global karena kebijakan tugas dan ketegangan geopolitik. Kegiatan ekonomi pada kuartal kedua 2015 menunjukkan bahwa kinerja ekspor non-minyak dan gas lebih dipengaruhi oleh beban ekspor pertama AS sebagai tanggapan terhadap kebijakan tarif AS.
Read More : Lucky Hakim Dipanggil Kemendagri, Dedi Mulyadi: Kita Tunggu Sanksinya
“Sumber pertumbuhan permintaan domestik harus ditingkatkan melalui konsumsi dan investasi keluarga,” kata Perry.