Jakarta, Beritasatu.com – Di era teknologi hijau dan keberlanjutan, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dirancang untuk menjadi transportasi masa depan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sejumlah besar pemilik kendaraan listrik beralih kembali ke kendaraan berbahan bakar bensin konvensional.
Read More : Guru Besar UIN: Hubungan Ulama-Pemerintah Sudah Kuat Sejak Lama
Menurut The Hill, peneliti di University of California, Davis mengatakan lebih dari 4.000 pemilik mobil listrik di California telah kembali menggunakan kendaraan konvensional. Studi tersebut menemukan bahwa tingkat pembatalan mobil listrik di kalangan pemilik mobil hybrid adalah 20%, dibandingkan dengan 18% pemilik mobil listrik.
Laporan survei lain yang dilakukan McKinsey & Co menemukan bahwa hampir 50% atau 46% pengguna kendaraan listrik di Amerika Serikat (AS) ingin kembali menggunakan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Lebih dari 30.000 responden dari 15 negara ikut serta dalam survei ini, yang memberikan gambaran luas dan mendalam mengenai tren ini. Namun mengapa fenomena ini bisa terjadi? Di bawah ini adalah deskripsinya.
1. Minimnya infrastruktur pembangkit listrik umum (SPKLU) Minimnya infrastruktur pembangkit listrik umum (SPKLU) menjadi permasalahan terbesar bagi pemilik kendaraan listrik. Banyak pemilik yang kesulitan mendapatkan poin yang cukup, sehingga menimbulkan masalah dalam penggunaan sehari-hari.
Terbatasnya jumlah SPKLU membuat pengguna kendaraan listrik harus merencanakan perjalanannya dengan matang dan sering menempuh jarak jauh untuk mencari stasiun pengisian terdekat.
2. Pengisian daya yang tidak terduga di rumah juga merupakan masalah penting. Meskipun kendaraan listrik dapat terisi penuh dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan pengisian daya Level 2 (240 volt) di rumah, banyak rumah dan lokasi lain tidak memiliki opsi ini.
Kurangnya infrastruktur pengisian daya di rumah membuat pemilik kendaraan listrik dibatasi waktu pengisian daya semalaman menggunakan Standar 1 (120 volt). Hal ini diperburuk dengan permasalahan lain, seperti kurangnya tempat parkir berbayar, terutama bagi mereka yang tinggal di apartemen atau kondominium.
Read More : Produksi Minyakita dengan Mesin Manual di Karanganyar Dihentikan
3. Biaya kepemilikan mobil listrik juga memegang peranan penting. Biaya penggantian dan pemeliharaan baterai lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional, memaksa banyak pemilik untuk mempertimbangkan kembali pilihan mereka.
Meskipun biaya operasional harian kendaraan listrik rendah, biaya awal yang tinggi dan kemungkinan besar biaya pemeliharaan atau penggantian baterai yang tinggi merupakan faktor penghalang bagi banyak calon pengguna.
4. Keterbatasan praktis perjalanan jarak jauh adalah alasan lainnya. Kendaraan listrik dinilai lebih murah untuk perjalanan jarak jauh karena terbatasnya jarak tempuh dan kemampuan mengisi daya saat bepergian.
Meski jumlah SPKLU dan kapasitas baterai kendaraan listrik mengalami peningkatan, masih banyak pengguna yang merasa tidak nyaman dengan risiko kehabisan daya di tengah perjalanan jika tidak segera menuju stasiun pengisian daya.